Kelainan seks berupa sodomi terhadap
anak laki-laki kerap terjadi, dan berikut adalah sebuah cerita seorang
pria melakukan sodomi terhadap anak kecil. Selengkapnya, berikut adalah
ceritanya!
Ujang anak jalanan, umurnya baru 15
tahun, badannnya kurus. Ujang yang biasa tidur di salah satu kios pasar,
setelah sibuk ngamen diperempatan jalan pasar “X”. Malam itu seperti
biasanya si Ujang masuk pasar, saat dia sedang mencari kardus bekas
untuk alas tidurnya, Ujang didatangi oleh Rono preman pasar tersebut
yang saat itu sedang setengah mabuk setelah minum minuman keras bersama
teman-temannya.
“Hei jang baru datang, mau tidur ya?”
“Iya kang”, Ujang menjawab dengan sedikit takut.
“Iya kang”, Ujang menjawab dengan sedikit takut.
“Aku nggak punya duit nih, sini bayar ongkos numpang tidur dulu.”
“wah kang tadi lagi sepi buat Ujang makan aja udah nggak ada?”
“Jangan banyak omong kamu, sini ikut aku dan jangan banyak omong ayo…”
“wah kang tadi lagi sepi buat Ujang makan aja udah nggak ada?”
“Jangan banyak omong kamu, sini ikut aku dan jangan banyak omong ayo…”
Ujang dengan terpaksa mengikuti Rono
dengan perasaan takut dan gemetaran. Saat tiba disalah satu sudut kios
yang sedikit tersembunyi, gelap dan sepi Rono berhenti.
“Udah disini saja”
“Ampun kang, bener Ujang nggak punya uang ampun kang jangan ujnag dipukuli?”
“Jangan banyak omong diem aja kamu, kalo mau selamat”
“Ampun kang, bener Ujang nggak punya uang ampun kang jangan ujnag dipukuli?”
“Jangan banyak omong diem aja kamu, kalo mau selamat”
Tanpa banyak basa-basi Rono kemudian
menarik Ujang dan merogoh celananya. Si Ujang sangat ketakutan terutama
pada Rono preman pasar yang cukup ditakuti itu.
“Dasar males kerja apa aja kamu, duit aja nggak punya”, Rono memaki Ujang sambil memukul kepalanya.
“Ampun kang, tadi sepi nggak banyak yang
ngasih lagian sebagian udah Ujang setorin ke kang adun”, si Ujang hanya
bisa pasrah sambil memegang kepalanya yang dijambak Rono. Tapi kemudian
tiba-tiba Rono dengan kasar membuka membuka celana Ujang, sehingga
Ujang hampir jatuh karenanya.
“Ampun kang jangan saya disiksa kang ampun”, ratap Ujang sambil menangis sesenggukan.
Tapi Rono sepertinya sudah gelap mata
dengan kasar dia menarik celana Ujang sehingga anak itu tinggal memakai
kaos oblong lusuh miliknya, dan celananya dilempar oleh Rono.
“Kamu diem aja ya jangan coba-coba
bersuara apalagi teriak, sini”, si Rono dengan kasar menarik pundak
Ujang sehingga posisi Ujang membelakangi Rono. Kemudian Rono membuka
celananya dan kontolnya yang sudah tegang langsung berdiri mengacung
siap untuk menembak.Rono dengan tangannya meraba pantat Ujang dan saat
dia menemukan lubangnya, kemudian dia mengarahkan kontolnya ke lubang
pantat Ujang.
“Aduh kang sakit ampun”, Ujang sedikit berteriak saat kontol Rono mulai mendesak masuk ke pantatnya.
“Diem kamu jangan banyak bacot!”
Rono memasukan kontolnya perlahan-lahan
dan sedikit demi sedikit, sepertinya dia juga merasa sedikit sakit
karena lubang pantat Ujang sangat sempit. Keringat mulai mengucur dari
badan mereka terutama Ujang yang wajahnya kian pucat menahan sakit. Saat
sudah hampir setengahnya dengan tanpa perasaan Rono mendorong kontolnya
masuk, dan bersamaan dengan itu Ujang berteriak tertahan dan badannya
menegang menahan sakit di lubang pantatnya.
“Diem kamu jangan bersuara cuman
sebentar aja”, kata Rono dengan sedikit terengah-engah setelah kontolnya
masuki ke lubang pantat Ujang.
Setelah beberapa saat kemudian Rono
mulai menggerakkan pantatnya perlahan-lahan kemudian bertambah cepat.
Ujang hanya bisa menangis sesenggukan menahan sakit badannya yang kurus
sudah penuh oleh keringat, dan Ujang sudah tidak bisa menangis lagi, dia
hanya menggigit bibir menahan sakit. Gerakan Rono sangat kasar dia
memaju mundurkan pantatnya dengan cepat. Selang beberapa saat kemudian
nafasnya mulai memburu dan badannya mulai menegang, gerakan badannya
bertambah kasar sesekali dia menjambak rambut Ujang dan sesekali
mencengkram pundak Ujang sampai akhirnya matanya terpejam, badannya
menegang dan pantatnya menekan ke pantat Ujang dengan kasar
berkali-kali.
“Ngaaakh… Ouchh”, Rono mendesah saat kontolnya muncrat membasahi liang Ujang dengan spermanya.
Dilain pihak bersamaan dengan itu Ujang
menyeringai menahan sakit dan badannya juga ikut tegang kemudian
terkulai lemas, Ujang langsung pingsan. Beberapa saat kemudian Rono
melepaskan tubuh Ujang yang langsung jatuh tersungkur. Dan tanpa
perasaan Rono kemudian kencing di badan Ujang dan meninggalkan Ujang
yang terkulai pingsan akibat disodomi olehnya. Saat sadar Ujang hanya
bisa menangis karena seluruh badannya terasa sakit terutama lubang
pantatnya yang saat dipegang olehnya masih ada darah yang mengalir.
“Mak tologin Ujang mak, sakit” Ujang
meratap sendiri dan suaranya hampir tidak terdengar, pandangan mata
Ujang mulai gelap. Tidak ada yang tahu kalau disalah satu sudut pasar
ada anak yang tergolek kesakitan.




0 komentar:
Posting Komentar